Categories: Kesehatan

Begadang Jadi Pemicu Obesitas, Diabetes, dan Serangan Jantung

Alasan kenapa terlalu sering bergadang tidak dianjurkan. Foto: Ist.

 

PAPUA BARAT DAYA POST. COM – Begadang telah menjadi kebiasaan yang semakin umum di tengah gaya hidup modern. Tuntutan pekerjaan, tugas kuliah, maraton serial favorit, hingga kebiasaan bermain media sosial membuat banyak orang rela memangkas jam tidur demi aktivitas yang dianggap lebih penting.

 

 

Padahal, kebiasaan tidur larut malam bukan sekadar menyebabkan kantuk keesokan harinya. Dalam jangka panjang, begadang dapat memicu berbagai gangguan kesehatan serius yang berdampak pada kualitas hidup.

 

 

Salah satu dampak paling cepat dirasakan adalah menurunnya daya tahan tubuh. Saat tidur, tubuh memproduksi sitokin, yaitu protein yang berperan penting dalam melawan infeksi dan peradangan. Ketika waktu tidur berkurang, produksi sitokin dan antibodi juga ikut menurun.

 

Akibatnya, tubuh menjadi lebih rentan terserang berbagai penyakit, mulai flu, batuk, hingga infeksi virus lainnya.

 

 

Kurang tidur juga berpengaruh terhadap fungsi otak. Seseorang yang sering begadang cenderung mengalami penurunan konsentrasi, sulit fokus, serta daya ingat yang melemah. Respons tubuh terhadap berbagai aktivitas pun menjadi lebih lambat dibandingkan mereka yang memiliki waktu tidur cukup.

 

 

Dalam jangka panjang, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kebiasaan kurang tidur dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan otak, termasuk demensia dan Alzheimer pada usia lanjut.

 

Tak hanya itu, begadang juga berkontribusi terhadap kenaikan berat badan. Banyak orang mengira terjaga lebih lama akan membakar lebih banyak kalori. Faktanya, kurang tidur justru mengganggu keseimbangan hormon leptin dan ghrelin

 

Kondisi tersebut membuat seseorang lebih mudah merasa lapar, terutama pada malam hari, sehingga mendorong konsumsi makanan tinggi gula dan karbohidrat. Jika berlangsung terus-menerus, risiko obesitas pun meningkat.

 

 

Dampak lain yang perlu diwaspadai adalah meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular. Saat tidur, tubuh memanfaatkan waktu untuk memulihkan sistem peredaran darah dan menstabilkan tekanan darah. Ketika waktu istirahat terus dikurangi, jantung dipaksa bekerja lebih keras.

 

Akibatnya, risiko hipertensi, stroke, hingga serangan jantung menjadi lebih tinggi. Selain itu, kurang tidur juga dapat mengganggu sensitivitas insulin sehingga meningkatkan risiko diabetes.

 

Karena itu, menjaga pola tidur yang cukup menjadi salah satu investasi kesehatan paling sederhana namun penting. Membatasi penggunaan gawai sebelum tidur serta membiasakan tidur tepat waktu dapat membantu tubuh mendapatkan waktu pemulihan yang optimal setiap malam. (Radar surabaya)

Lucky Ireuuw

Share
Published by
Lucky Ireuuw
Tags: Begadang Diabetes Jantung

Recent Posts

  • Olahraga

Awal Manis Buat Skotlandia, Bungkam Haiti 1-0

Timnas Skotlandia mengawali kiprahnya di Piala Dunia 2026 dengan hasil positif setelah menundukkan Haiti dengan…

16 hours ago
  • Lifestyle

Emoji Jadi Bahasa Baru Gen Z untuk Ekspresikan Perasaan di Era Digital

Emoji kini tidak lagi sekadar menjadi pelengkap pesan singkat. Bagi Generasi Z (Gen Z), simbol-simbol…

19 hours ago
  • Olahraga

Maroko Redam Keperkasaan Brasil, Selecao Hanya Raih Satu Poin

Maroko berhasil meredam keperkasaan Brasil setelah memaksa salah satu favorit juara itu bermain imbang 1-1…

19 hours ago
  • Olahraga

Samurai Biru Bidik Kejutan Besar di Piala Dunia 2026

Timnas Jepang datang ke Piala Dunia 2026 dengan ambisi besar. Tidak lagi sekadar menjadi kekuatan…

21 hours ago
  • Olahraga

Prediksi Australia vs Turki di Piala Dunia 2026: Arda Guler Jadi Ancaman

Timnas Australia akan menghadapi Turki pada laga perdana Grup D Piala Dunia 2026 di Stadion…

22 hours ago
  • Olahraga

Gol Telat Boualem Selamatkan Qatar dari Kekalahan

Timnas Qatar membuat kejutan pada laga perdana Grup B Piala Dunia 2026 setelah berhasil menahan…

22 hours ago